Sabtu, 12 April 2014

The Unforgetable Memory

Guru, salah satu cita-cita yang ada dibenakku ketika duduk dibangku SMP dan yang membuatku semangat, percaya diri dan merasa punya kemampuan lebih dari orang lain meskipun pas-pasan. Waktu itu guru favoritku cukup banyak tapi yg cukup terkenang sampai sekarang adalah guru bahasa Inggris. Selain nge-fans sama gurunya daku juga suka sama pelajaran nya. Dari mulai SMP daku suka bahasa Inggris. BTW setelah duduk di bangku SMA, cita-cita sebagai guru mulai tak ku lirik sedikitpun hanya ya untuk sekali-kali pernah terfikirkan juga. Ketika detik-detik masa SMA berakhir keinginan yang paling kuat adalah semacam perkantoran. Banyak pilihan yang ku inginkan salah satunya sangat ngebet dengan akuntansi. Ntahlah mungkin ambisi masa remaja masih kuat untuk segera mengangkat derajat keluarga lebih cepat haha...
Dan ambisi itu dibuktikan dengan mengikuti sejumlah Ujian Masuk Universitas. Mula-mula diriku ikut PMDK ke politeknis Post dengan jurusan Akuntansi sesuai yang diinginkan meskipun tak sejurusan dengan jurusan yang diemban selama SMA, IPA. Dan Alhamdulillah keluar hasilnya dengan berita baik. Daku diterima di jurusan Akuntansi Politeknis Post. Tetapi Dilema mulai muncul, keraguanpun datang tiba-tiba ,rasa takutpun mulai mendera. Yang sampai pada keputusan: aku meniggalkannya alias tidak mengambil kelulusan itu dan memilih mengikuti “Beasiswa Masuk Universitas (BMU)”. Hm.... ini merupakan kenanganku  dengan Sang mantan hihi... Aku berjuang bareng-bareng dengan nya sampai pada pendaftaran Seleksinya saja. Kita dengan Orang Tua masing-masing pergi ke Bandung untuk mendaftar Seleksi Universitas nya atau SNMPTN  dan mengambil Uang BMU untuk bekal pada saat test nya nanti. Dan setelah itu kita berpisah karna harus mencari alamat dimana kita test Seleksi ujiannya. Hh... ckp menyedihkan juga cerita aku dan dia pada saat test sama-sama mendapatkan penderitaan. Aku yang pada saat pulang dari Ujian, aku sudah hampir lupa dimana ujianku dulu ya. Pokoknya di sekolah Santa deh, Sekolahnya  anak yang beragama kristen. Aku tersesat dan tak tau arah jalan pulang ( haha... itu mah lirik ya). Dan memang benar keadaanya  seperti itu. Aku berusaha santai berjalan kaki menyusuri terotoar  meskipun dalam hati benar-benar menjerit pengen nangis. Aku sudah sejauh ini melangkah tapi tak sedikitpun arah pulang yang aku ingat. Aku tak tau harus naik  angkot darimana dan berhenti dimana yang jelas tempat aku tinggal selama SNMPTN berlangsung itu di kostan yang deket Gasibu. Aku segera bertanya pada Satpam di sekitar sana. Sampai pada akhirnya aku naik mobil ciroyom tapi tak tau harus berhenti di gang mana. Haduh...sungguh ingin nangis tp itu tak boleh terjadi karena aku harus kuat belajar hidup sendiri. Aku memang bodoh kenapa harus bareng sama teman yang kurang solid, gude ambek, tidak sabaran dan ckp menyebalkan. Dia menelponku pada saat pulang tapi tak sabaran menunggu orang yang tak tau arah pulang. Dan apa yang terjadi padaku setelah aku berhasil menemukan gang kostan yang aku tinggali itu alangkah senangnya hatiku seperti menemukan harta karun haha... Aku berjalan lebih cepat ingin segera sampai dan istirahat meskipun kakiku lecet akibat jalan kaki terlalu jauh. Itu cerita sedihku di hari pertama pada saat SNMPTN dan parahnya itu terjadi di keesokan harinya dengan cerita tersesat yang berbeda. Ntahlah aku hampir lupa bagaimana aku tersesat dihari kedua. Yang jelas sampai sekarangpun aku berfikir apa aku sanggup hidup di Bandung dengan desakan penduduk dan arah jalan yang memutar serta memusingkan heu...Mungkin itu salah satu alasan Alloh tidak meluluskan aku d SNMPTN itu, karena aku lemah :’(. Dan cerita dari Sang mantanku terdengar menyedihkan juga. Sandal dan Sepatu nya yang di pakai untuk SNMPTN  ada yang nyuri. Seharusnya dia terlindungi juga seperti diriku meskipun dia tidur di Mesjid toh itu tempat yang suci dan mulia eh ini malah tersiksa. Dia tidur di mesjid karena terlalu jauh jarak antara tempat SNPMTN-Kostan kaka kelasnya. Tapi Alloh maha menolong Dia memberikan sepatu lain melalui ketua DKM setempat. Hm.. it’s really unforgettable experience :D
Ambisi ku blm berakhir. Setelah SNMPTN aku juga mengikuti tes STAN, universitas yang sangat tepat untuk jurusan yang aku mau, Akuntansi. Ketika menunggu hasil dari tes-tes itu universitas terakhir yang aku coba adalah IPDN. Ketertarikanku mengikuti tes IPDN adalah karena universitas itu memiliki jaminan kerja setelah lulus sama hal nya dengan STAN daan aku memang menginginkan sekolah yang berasrama dan disiplin. Aku hampir lupa tentang urutan tes universitas yang aku ikuti itu yang jelas sebelum sampai disini di bangku Keguruan aku berusaha mencari keberuntungan di universitas lain yang kesemuanya itu gagal aku capai.. hhmmm...it’s annoying but it give me a good experience until now. Aku dapat pengalaman berharga dari kegagalan itu. Fokus adalah salah satu inti kesuksesan meraih masa depan yang cerah.. waktu aku SMA bukan fokus yang aku gunakan tapi ambisi yang selalu menemani makanya gagal. Dan alasan yang paling utamana tetap itu semua atas izin Alloh yang memberikan kehidupan terbaik bagi hamba-Nya. Itu jadi sedikit saran dariku buat adik-adik yang mau melanjutkan pendidikan. Fokuslah ketika menginginkan sesuatu :D
Perjuanganku berakhir di Sekolah Keguruan. Aku menghabiskan waktu selama 4 tahun untuk menjadi Sarjana pendidikan yang akhirnya sekarang menjadikan nyata cita-citaku ketika SMP menjadi seorang guru :P. Tetapi rasanya hanya sekedar title saja Guru karena di panggil Ibu. Aku dalam hatiku sedikitpun belum merasa menjadi guru apalagi kalau dilihat dari peran dan tugas guru. Ya.. meskipun dalam hati kecil aku merasakan ada sebuah tanggung jawab dan kasih sayang akan anak didikku setelah sekarang hampir 2 tahun aku mengemban tugas di lingkungan pendidikan.  Apapun itu memang butuh proses begitu hal nya dengan diriku yang tak mau berprofesi seperti sekarang tapi malah makan omongan sendiri :P. Satu hal yang harus selalu aku tanamkan dalam kehidupan adalah bersyukur. Karena akan selalu ada keadaan atau kehidupan yang tidak lebih baik dari kita sekarang. Seburuk apapun yang kita rasakan akan selalu ada yang tidak sebaik yang kita rasakan. Pepatah “ Hidup selalu ada pilihan” itu memang benar. Sebagai manusia kita hanya tinggal memilih kehidupan mana yang kita inginkan. Ketika menginginkan pilihan yang baik maka berusahalah untuk meraihnya dan sebaliknya ketika pilihan yang kurang baik yang dijalani, mungkin itu adalah salah satu pilihan juga meskipun tak menginginkannya tapi kau memilihnya dengan tanpa sadar, dengan segala alasan yang mungkin kau elakkan. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar